Dental implants, and why it’s important to choose the proper one

One of the proposition of any dental treatment is to keep the tooth within the mouth in a healthy and functional condition as long as possible. If the tooth has a caries, the caries must be removed and a filling is placed to replace the lost dental tissue. If the tooth is infected, a root canal treatment is performed to stop the spread of infection and bring it back to healthy state. If the tooth is cracked, a cusp coverage restoration is done to protect the remaining tissue and prevent the spread of crack. However, what if the tooth is deemed unrestorable or untreatable hence extraction is the only way to go?

What should we do if we lost a tooth?

Ideally, every missing tooth must be replaced to ensure our chewing system work properly. Loss of teeth is associated with reduced chewing efficiency and many following problems such as TMJ problem, periodontal problem of the adjacent teeth, speech difficulty, change of chewing pattern, poor body balance, and poor facial esthetic.

There are two ways to replace missing teeth, such as fixed/ removable prothesis and dental implant.

If a porcelain crown is to replace the natural tooth crown, a dental implant is to replace the natural tooth root.

Unlike fixed bridge or removable denture that require support and anchorage from the adjacent teeth, dental implant doesn’t affect the remaining dentition, allowing it to be more conservative.

Fixed bridge requires the dentist to prep the supporting teeth and this procedure may damage the supporting teeth in the long run. The bridge itself may create hygiene problem because it’s difficult to access and kept clean.

Removable denture on the other hand is not as aggresive as a fixed bridge as it requires minimal tooth preparation. However, comfort and stability is always an issue, especially in cases where there’s only few teeth left. Removable denture also moves a little under chewing pressure and may incur problem with the surrounding soft tissue.

Both of fixed and removable denture can not maintain the bone volume that always shrinks after a tooth is extracted.

Dental implant can solve these problems we have with fixed/ removable prothesis.

Comfort and stability

An implant feels almost 100% like natural tooth because the crown-suporting fixture is placed within the bone just like a natural tooth root, allowing the porcelain crown to “sit” on the gum naturally. It doesn’t move under chewing pressure and it won’t come off during eating/ speaking (unlike removable denture). Implants are also easy to clean just like regular teeth and with proper hygiene, it may last as long as 20 year.

Maintains bone volume

Once a tooth is extracted, the remaining bone goes into atrophic changes. The alveolar process slowly shrinks because it no longer receives stimulation from the tooth root. This will not happen if we use implant. Implant replaces the tooth root thus providing the necessary stimulation for the alveolar process, maintaining bone height and bone volume important for function and esthetic.

Years ago, dental implant was quite an exclusive treatment options because there were only few implant manufacturers, they sold their implant at a relatively high price and only few could afford it. However, the situation is now different after the surge of value-brand implants. There are currently more than 200 implant companies in the world, so how to make sure you get the good one?

Once the implant is placed and integrated with the bone, it becomes a part of your body, just like your natural teeth. Just like your teeth, implants also need maintenance and may need minor repair or adjustment in the future.

If we expect the implant to survive for 10 years, we also expect the company to be around for at least the same time.

It is, therefore, very important to choose a reputable dental implant company with a long standing history and good research and development.

In our clinic, we use Osstem implants for our patients. With its history for 20 years, the company has exceptional basis for the development of their product based on scientific research, to ensure their implants are able to meet the progressing clinical demand and deliver maximum benefit for the patients in the long term.

Our experience in using Osstem implants has got us satisfying feedback from the patients. We want to deliver the best for our patients while at the same time providing the treatment itself at a reasonable price.

Dental implants are the best choice to replace missing teeth. By choosing the proper one, we want to ensure the safety and the enhancement of our patient’s overall health.

Horor Pencabutan Gigi: Cabut Gigi menyebabkan Kebutaan, Mitos atau Fakta?

Sering mendengar kalimat, “Hati-hati kalau mau cabut gigi, nanti bisa buta lho..”

I bet you do.

Sepanjang ‘sejarah’ saya melakukan pencabutan gigi, setidaknya hampir 40% selalu mengkonfirmasi kebenaran hal tersebut, dan selalu saya jawab bahwa hal tersebut kurang benar.

Kenapa saya bilang ‘kurang’ dan bukannya ‘tidak’?

Kenyataanya, memang pernah terjadi pasien mengalami kebutaan sesaat setelah tindakan pencabutan gigi.

Sebelum panik, mari kita ulas satu persatu.

Well, kalau Anda membayangkan bahwa dengan pencabutan gigi lalu saraf mata ikut terputus, perkiraan tersebut salah.

Gambar di atas merupakan ilustrasi persarafan kraniofasial oleh Nervus Trigerminus. Nervus Trigerminus memiliki 3 cabang saraf, yaitu:

1. Nervus Ophtalmicus (V1); menginervasi daerah sekitar mata

2. Nervus Maxillaris (V2); menginervasi gigi- geligi rahang atas dan jaringan sekitarnya

3. Nervus Mandibularis (V3); menginervasi gigi-geligi rahang bawah dan jaringan sekitarnya.

Walaupun berasal dari induk saraf yang sama, kerusakan pada salah satu cabang saraf tidak mempengaruhi fungsi cabang saraf yang lain karena daerah yang diinervasi pun berbeda. Lain halnya dengan kasus parestesi pada tindakan odontektomi (pencabutan gigi yang impaksi), di mana trauma pada cabang saraf V3 dapat menyebabkan rasa kebas (mati rasa) pada pipi, bibir, dan gusi. Hal ini dikarenakan cabang saraf V3 memang menginervasi jaringan-jaringan tersebut. Bayangkan Anda memiliki rangkaian bola lampu yang disusun secara seri. Lalu kabel yang menghubungkan bola lampu tersebut putus di satu titik. Otomatis, titik berikutnya tidak mendapat suplai arus listrik. Kira-kira begitu konsep analogi parestesi.

Lalu bagaimana dong dengan kasus kebutaan sesaat setelah pencabutan gigi yang tadi saya sebut?

Dalam sebuah artikel berjudul An Eye for A Tooth (klik di sini untuk membaca artikel asli) yang ditulis oleh Alexander Kiderman dan Jawad A.A. Tair yang dirilis oleh The Gerodontology Society pada awal 2013 kemarin, kebutaan sementara (transient blindness) setelah pencabutan gigi disebabkan oleh komplikasi sistemik.

Pada kasus yang dipaparkan di artikel tersebut, seorang wanita mengeluh pandangannya kabur dan seperti ada tirai putih yang menghalangi penglihatannya, setelah gigi geraham kedua rahang atasnya dicabut. Setelah lewat 3 hari penglihatannya masih belum membaik, pasien tersebut dirujuk ke ophtalmologist. Diagnosa yang diberikan adalah retinal tear & vitreous hemorrhage. Dokter memberikan terapi laser dan seminggu kemudian, penglihatannya kembali normal.

Mari kita lihat gambar berikut ini.
sumber : http://www.drcivils.com
Rahang atas merupakan struktur yang membentuk lantai/ dasar dari sinus maxillaris. Gigi-geligi rahang atas pun merupakan kesatuan dengan seluruh struktur tengah wajah dan tulang tengkorak. Tindakan pencabutan gigi dapat menimbulkan traksi/ tekanan yang dapat dirasakan seluruh bagian wajah dan kepala, yang berlanjut menjadi stress. Kebanyakan pasien merasakan stress selama prosedur pencabutan gigi, sehingga sangat mungkin tekanan darah mereka pun ikut naik dan menyebabkan terjadinya retinal tear dan perdarahan pada cairan di dalam bola mata.

Hal lebih serius yang dapat menyebabkan gangguan retinal dan cairan vitreous yang disebutkan di atas adalah Valsalva manoeuvre. Pada Valsalva manoeuvre, terjadi peningkatan tiba-tiba pembuluh darah vena sehingga menyebabkan pembuluh kapiler pada retina pecah. Pasien dengan riwayat blood discrasia, diabetes mellitus, sickle cell anemia, hipertensi, dan riwayat ocular venous occlusions tentunya memiliki resiko lebih tinggi akan terjadinya Valsalva retinopathy. Bila sudah terjadi, treatment yang disarankan adalah yang sifatnya konservatif, yaitu dengan menghentikan konsumsi antikoagulan dan menghindari aktivitas berat. Bila perlu, dapat dilakukan tindakan bedah dengan laser.

Oleh karena itu, SANGAT PENTING untuk memberikan informasi sebenar-benarnya kepada dokter gigi yang merawat akan riwayat kesehatan Anda. Bila dokter gigi tidak/ lupa menanyakan, Anda dapat berinisiatif menginformasikan riwayat kesehatan termasuk dengan obat-obatan yang sedang dikonsumsi. Penting juga bagi Anda untuk tetap rileks selama prosedur pencabutan. Jangan karena saking tegangnya, Anda sampai menahan nafas. Hal ini dapat meningkatkan resiko terjadinya komplikasi-komplikasi di atas. Bila Anda rileks, dokter gigi dapat dengan tenang melakukan pencabutan sehingga prosesnya pun berlangsung cepat. Dengan begitu, kedua pihak sama-sama senang, bukan? 🙂

Tampak Lebih Muda dengan Veneer Gigi

Siapa yang tidak pernah mendengar tentang veneer gigi?

Sekitar tiga-empat tahun terakhir, masyarakat awam booming dengan istilah veneer gigi, yang mendadak populer karena banyak artis ibukota yang memasang veneer untuk mempercantik senyum mereka.

Apakah sebenarnya veneer gigi?

Veneer gigi merupakan lapisan tipis bahan restorasi gigi yang ditempatkan di permukaan gigi untuk memperbaiki anatomi dan warna gigi.

Ada dua jenis veneer, yaitu direct dan indirect.

Direct veneer dibuat dari bahan komposit dan memerlukan waktu pengerjaan yang lebih singkat dibandingkan dengan indirect veneer. Sedangkan indirect veneer, walaupun memerlukan waktu pengerjaan dan prosedur yang sedikit lebih panjang, tetapi memberikan hasil yang lebih baik dan ketahanan yang lebih lama karena terbuat dari bahan porcelain.

Smile makeover, facial rejuvenation.

Coba perhatikan foto tiga aktris di bawah ini dan bandingkan keseluruhan wajah antara foto di sebelah kiri dan kanan. Apa yang membuat mereka tampak berbeda?

Before-After — Megan Fox
Before-After — Kirsten Dunst
Before-After — Cheryl Cole

Sama-sama menggunakan makeup, tetapi senyum dan gigi-geligi mereka yang membuat perbedaan drastis.

Dalam sebuah survey di Inggris*, sebanyak 73% responden menyatakan bahwa senyum merupakan facial feature yang paling diperhatikan saat bertemu dengan seseorang untuk pertama kali dan hal ini menentukan first-impression yang mereka tangkap dari orang tersebut.

Veneer gigi dapat membuat penampilan gigi yang tidak rapi dan berwarna kekuningan menjadi rata, rapi, dan putih cemerlang dalam sekejap! Tidak perlu menahan sakit karena pemasangan kawat gigi, tidak perlu repot-repot mengulang proses pemutihan gigi karena warna veneer gigi tidak akan berubah menjadi kuning seperti gigi asli.

Melalui prosedur smile design , dokter gigi dapat merancang bentuk dan posisi veneer gigi agar harmonis dengan profil wajah Anda. Smile design yang tepat akan memberikan efek rejuvenation pada wajah secara keseluruhan.

Kenapa kata tepat ini penting?

Karena pembuatan veneer yang sembarangan dan terburu-buru akan menghasilkan bentuk dan desain yang tidak pas dengan proporsi wajah Anda. Pemilihan warna yang tidak pas juga memberikan kesan palsu pada hasil akhir. Analoginya, bila kita menggunakan bulu mata palsu saja harus teliti dan rapi supaya bulu mata kita terlihat natural, apakah kita ingin setelah pemasangan veneer justru gigi dan senyum kita tampak aneh dan tidak alami?

Veneer gigi yang dibuat terlalu tebal, terlalu panjang, dan (yang kebanyakan terjadi) terlalu putih, hasilnya tidak bisa terlihat alami. Apalagi jika pemasangannya juga kurang baik dan menyebabkan iritasi dan gusi berdarah. Veneer harus dibongkar dan dibuat ulang dengan bentuk, warna, dan presisi yang baik.

Veneer yang terlalu bulky, terlalu putih dan tidak tampak alami (sumber: secure4health.org)
Veneer yang terlalu puith, terlalu tebal, menyebabkan bibir tampak lebih maju/ protrusi (sumber: thedentalguide)

Dengan pengerjaan yang teliti, veneer merupakan alternatif yang lebih baik daripada prosedur botox maupun facelift untuk mendapatkan wajah yang tampak lebih muda. Karena itu, jangan ragu untuk berkonsultasi dengan dokter gigi. Dokter gigi akan melakukan pemeriksaan klinik dan analisis foto wajah dan gigi untuk menentukan apakah Anda merupakan kandidat yang tepat untuk pemasangan veneer gigi.

Have a good smile and a youthful face everyday.

 

That Hollywood Smile

Gigi putih cemerlang, siapa yang tidak ingin?

Selain membuat senyum tampak lebih menarik dan sehat, gigi putih cemerlang memberikan kesan energik dan awet muda, berkebalikan dengan gigi kuning kusam yang memberikan kesan menua.

Prosedur teeth whitening pun kini kian populer. Walaupun berbagai macam produk pemutih gigi beredar bebas di pasaran, tetapi hasilnya tetap tidak seefektif prosedur teeth whitening yang dilakukan di bawah pengawasan dokter gigi.

Namun, tahukah Anda ada beberapa hal yang perlu diperhatikan sebelum memulai proses teeth whitening?

Tidak semua orang dapat menjalani prosedur teeth whitening.

Walaupun teeth whitening merupakan prosedur yang aman, tetapi prosedur ini tidak disarankan untuk:

  • Pasien dengan usia di bawah 14 tahun
  • Ibu hamil dan menyusui
  • Pasien dengan penyakit sistemik seperti diabetes, gangguan jantung, dan dalam perawatan radio/kemoterapi
  • Pasien dengan resesi gingiva dan gigi sensitif.

Ada kemungkinan pasien mengalami sensitivitas pasca teeth whitening.

Walaupun prosedur ini secara umum tidak menimbulkan rasa sakit dan tidak memiliki downtime, resiko munculnya sensitivitas ini meningkat pada pasien dengan gigi retak (cracked teeth), karies terbuka, tambalan yang bocor, dan gigi yang sensitif.

Sensitivitas merupakan hal yang normal terjadi pada prosedur teeth whitening, dan akan menghilang dengan sendirinya. Dokter gigi akan memberikan gel untuk desensitisasi yang mengandung potassium nitrat untuk mengurangi ketidaknyamanan yang ada. Konsultasikan gigi Anda terlebih dahulu dengan dokter gigi untuk mendapatkan informasi perawatan yang dibutuhkan sebelum menjalani prosedur teeth whitening.

Hasil akhir teeth whitening bervariasi, tergantung dari kondisi gigi masing-masing orang.

Ada banyak faktor yang mempengaruhi perubahan warna gigi-geligi.

Perubahan warna yang disebabkan oleh faktor ekstrinsik (makanan/ minuman berwarna, rokok) dapat dikoreksi dengan efektif melalui prosedur teeth whitening. Sebaliknya, perubahan warna yang disebabkan oleh faktor intrinsik (konsumsi obat-obatan tertentu pada masa pembentukan gigi, fluorosis, dll) tidak dapat dikoreksi dengan prosedur teeth whitening dan membutuhkan prosedur yang  lebih invasif seperti veneer maupun crown.

Gigi-geligi pasien muda memberikan respon lebih baik terhadap bahan teeth whitening dibandingkan dengan gigi-geligi pasien dengan usia yang lebih tua.

Prosedur teeth whitening tidak mengubah warna restorasi komposit, crown, dan bridge.

Prosedur teeth whitening hanya akan mengubah warna dari gigi asli, sedangkan warna tambalan dan mahkota gigi tiruan akan tetap sama. Namun, Anda tidak perlu khawatir. Setelah prosedur teeth whitening ini selesai, tambalan dan mahkota gigi tiruan tersebut dapat diganti dengan warna yang lebih cerah sesuai dengan warna gigi Anda yang baru. Konsultasikan hal ini dengan dokter gigi yang merawat.

Realistislah dengan harapan akan warna gigi yang dicapai pasca perawatan.

Beberapa orang menginginkan warna gigi nyaris seputih kertas. Warna putih kertas hanya tampak indah pada kertas, dan bila diaplikasikan ke gigi akan terlihat sangat tidak alami.

Demikian halnya dengan tingkat pemutihan warna yang ingin dicapai. Pemutihan gigi hingga beberapa shade lebih cerah dapat dilakukan, tetapi biasanya tidak dapat dicapai hanya dengan satu kali perawatan saja. Konsultasikan dengan dokter gigi Anda untuk mendapatkan gambaran warna yang mungkin dicapai setelah prosedur teeth whitening.

Ada resiko relapse.

Teeth whitening bukan merupakan prosedur permanen untuk mengubah warna gigi. Gigi asli tetap akan mengalami perubahan warna. Tentu saja perubahan warna tidak terjadi secara langsung dan drastis, tetapi akan berlangsung perlahan-lahan. Dibutuhkan teknik maintenance yang baik untuk mempertahankan efek teeth whitening ini dalam jangka waktu yang maksimal. Maintenance biasanya dilakukan dengan home bleaching kit, sesuai dengan instruksi dokter gigi yang merawat.

Pada pasien dengan tingkat konsumsi teh/ kopi/ red wine/ rokok tinggi, maka perubahan warna giginya akan terjadi lebih cepat dibandingkan dengan pasien yang tidak/ mengurangi konsumsi hal-hal tersebut.



Perawatan Gigi Selama Masa Kehamilan

Banyak calon ibu yang bertanya-tanya, bolehkah melakukan perawatan gigi selama masa kehamilan? Apa tidak ada efek samping untuk bayi di dalam kandungan? Apakah prosedur tersebut aman?

Kebersihan & kesehatan gigi dan mulut seorang calon ibu berpengaruh besar terhadap kesehatan janinnya. Dalam sebuah artikel yang diterbitkan oleh Society for General Microbiology pada tahun 2009, disebutkan bahwa oral hygiene yang buruk dapat menyebabkan timbulnya komplikasi dan gangguan kesehatan bayi yang sedang dikandung. Penelitian yang dilakukan oleh N.J. Lopez, P.C. Smith, dan J. Gutierrez pada tahun 2002 melaporkan bahwa penyakit periodontal (penyakit yang menyerang gusi dan jaringan penyangga gigi) pada ibu hamil meningkatkan resiko kelahiran prematur (preterm birth) dan bayi dengan berat badan rendah (low birth weight) dibandingkan dengan ibu hamil yang tidak memiliki penyakit periodontal.

Pada masa kehamilan, terjadi peningkatan hormon progesteron yang dapat menyebabkan gusi bengkak, berdarah, dan lebih mudah teriritasi oleh plak dan sisa makanan. Oleh karena itu, prosedur pembersihan karang gigi dan check-up gigi secara rutin bukan hanya baik, tetapi justru sangat dianjurkan demi kesehatan ibu & bayi serta kelancaran proses kehamilan.

Bagaimana dengan prosedur perawatan lain?

Sering kali, penambalan gigi dan pemasangan mahkota dibutuhkan untuk mencegah terjadinya infeksi. Bila dibutuhkan penambalan/ pemasangan crown, perawatan ini lebih aman dilakukan pada trimester kedua. Pada trimester ketiga biasanya ibu hamil mulai kesulitan untuk berbaring dalam jangka waktu yang cukup lama.

Perawatan kosmetik gigi seperti bleaching sebaiknya ditunda hingga kehamilan selesai. Hal yang paling baik adalah menghindari perawatan gigi yang tidak diperlukan selama masa kehamilan supaya bayi terhindar dari resiko yang merugikan, tidak peduli seberapa kecil resiko tersebut.

Bagaimana dengan penggunaan obat-obatan dalam perawatan gigi?

Penggunaan obat anestesi lokal seperti Lidocaine cukup aman dilakukan pada masa kehamilan. Lidocaine dapat menembus plasenta bayi. Ada kalanya ibu hamil membutuhkan perawatan darurat seperti perawatan saluran akar (root canal treatment) atau pencabutan gigi. Bila perawatan darurat tidak dilakukan, rasa sakit berkepanjangan yang dirasakan oleh ibu hamil justru memicu stress pada bayi di dalam kandungan.

Dalam hal ini, anestesi lokal dapat diberikan dengan dosis seminimal mungkin, asal pasien dapat menjalani perawatan darurat dengan nyaman. Bila Anda masih merasakan nyeri, mintalah pada dokter gigi untuk menambah dosis anestesi. Bila Anda merasa nyaman menjalani perawatan, stress pada bayi juga ikut berkurang. Obat anestesi pun lebih efektif bekerja.

Demikian halnya dengan penggunaan antibiotik dan analgesik (penahan nyeri). Antibiotik dari golongan Penisilin dan turunannya termasuk aman dikonsumsi oleh ibu hamil.

Bagaimana dengan foto X-ray?

Pengambilan foto x-ray sebaiknya ditunda hingga kehamilan selesai.

Pembentukan organ janin berlangsung pada trimester pertama. Oleh karena itu, semua hal yang berpotensi meningkatkan resiko gangguan pada proses ini sebaiknya dihindari hingga trimester pertama berakhir. Demikian halnya pada trimester ketiga. Bila tidak diperlukan perawatan gigi darurat, sebaiknya perawatan gigi ditunda hingga setelah melahirkan untuk menghindari resiko kelahiran prematur dan rasa nyeri akibat berbaring terlalu lama.

Untuk menjaga kesehatan gigi selama masa kehamilan:

  • Bersihkan gigi secara teratur. Sikat gigi setelah makan dan jangan lupa menggunakan benang gigi (dental floss) untuk membersihkan sela-sela gigi.
  • Kunjungi dokter gigi untuk mendapatkan pembersihan gigi profesional dan pemeriksaan regular.
  • Informasikan kepada dokter gigi  Anda bila Anda sedang hamil. Tunda semua perawatan non-darurat hingga trimester kedua atau bila mungkin, setelah melahirkan.

Selamat menyambut kehadiran buah hati 🙂

Kapan Perlu Membawa Anak ke Dokter Gigi?

Banyak terjadi orang tua membawa anaknya ke dokter gigi saat gigi anak sudah berlubang parah dan anak mengeluh kesakitan. Ditambah lagi dengan image dokter gigi yang menyeramkan (karena sebelumnya sering diancam orang tua, bila rewel akan dibawa ke dokter supaya disuntik), bunyi-bunyi menyeramkan yang dihasilkan alat kedokteran gigi, prosedur perawatan yang lebih rumit (karena parahnya kerusakan gigi yang terjadi), membuat acara ke dokter gigi seperti mimpi buruk bagi anak Anda. Akibatnya, jam kunjungan ke dokter gigi menjadi penuh tangisan anak dan rayuan orang tua serta dokter yang merawat.

Bagaimana cara mengatasinya?

Bawalah anak Anda ke dokter gigi sedini mungkin.

Sebagai patokan, kunjungan pertama anak ke dokter gigi adalah sebelum si kecil berusia satu tahun, saat gigi sulung pertamanya telah tumbuh.

Selain mencegah terjadinya gigi berlubang, kunjungan dini ke dokter gigi dapat membantu orang tua untuk mendapatkan informasi berharga tentang tumbuh kembang gigi anak dan cara perawatannya. Hal ini sangat krusial mengingat gigi yang telah erupsi seketika beresiko berlubang bila cara perawatannya tidak tepat. Selain itu, kunjungan ke dokter gigi juga dapat membentuk oral care habit yang baik dan anak pun dapat mengenal dan menjadi terbiasa dengan dokter gigi yang merawatnya sehingga ia tidak lagi merasa cemas.

Apa yang harus dipersiapkan untuk kunjungan pertama?

Sebelum kunjungan, tanyakan ke dokter gigi gambaran tentang prosedur pemeriksaan yang akan dilakukan. Pertimbangkan juga sikap anak Anda, apakah termasuk yang kooperatif atau kurang kooperatif, termasuk cara-cara yang biasa dilakukan untuk me-manage anak bila ia mendadak rewel. Ceritakan kepada anak tentang prosedur pemeriksaan yang akan dilakukan oleh si dokter gigi (dengan bahasa yang menyenangkan tentunya) dan arahkan buah hati agar merasa antusias dengan kunjungan ini.

Apa yang biasanya dilakukan pada kunjungan pertama?

Pada umumnya, kunjungan pertama ini hanya sebagai masa orientasi anak terhadap suasana klinik, dokter gigi, dan perawat. Biasanya dibutuhkan kesabaran lebih dari orang tua maupun dokter yang merawat karena mungkin saja anak tiba-tiba merasa cemas dan takut memasuki lingkungan yang baru.

Kunjungan pertama ini dilakukan dengan singkat dan nyaman untuk anak karena saat ini merupakan saat yang penting untuk membangun trust si kecil terhadap dokter gigi. Trust anak ini menjadi sangat krusial bila nantinya ia memerlukan perawatan gigi lebih lanjut.

Waktu yang terbaik untuk melakukan kunjungan ini adalah saat anak dalam keadaan masih fresh (setelah sarapan). Jangan menjadwalkan kunjungan saat anak merasa capek dan lapar karena hal ini dapat membuat ia lebih cemas dan rewel. 

Pada waktu pemeriksaan, bila memungkinkan orang tua diharap menunggu di ruang tunggu sementara anak dibiarkan menjalani perawatan bersama dokter giginya. Hal ini perlu dilakukan agar komunikasi dan hubungan antara anak dan dokter gigi dapat terbangun dengan baik, tanpa intervensi orang tua. Biasanya untuk anak dengan usia di bawah 3 tahun, orang tua diperkenankan untuk memangku anak di dental unit selama pemeriksaan dilakukan.

Bila buah hati Anda termasuk yang kooperatif, pemeriksaan ini  biasanya hanya memakan waktu sekitar 15-30 menit dan meliputi  pemeriksaan ringan pada gigi, gusi, rahang, gigitan, dan jaringan mulut untuk mendeteksi masalah yang mungkin timbul. Bila diperlukan, dilakukan pembersihan gigi untuk menghilangkan plak dan karang gigi. Dokter gigi juga akan mengajarkan cara menyikat gigi yang baik dan benar.

Perlukah dilakukan kunjungan berikutnya?

Seperti orang dewasa, anak-anak juga harus dibiasakan untuk memeriksakan gigi secara rutin setiap 6 bulan sekali. Pada beberapa kasus, dokter gigi akan menyarankan untuk kunjungan setiap 3 bulan sekali bila usia anak masih sangat kecil untuk membantu membangun kenyamanan dan trust anak terhadap dokter gigi.

Mengapa Gigi Berubah Warna?

Perubahan warna gigi dapat disebabkan oleh beberapa faktor:

1. Faktor ekstrinsik
Perubahan warna gigi disebabkan oleh konsumsi makanan/ minuman berwarna secara berkepanjangan, seperti kopi teh, sirup, dll. Partikel warna yang terdapat pada makanan/ minuman tersebut lama-kelamaan menumpuk pada permukaan gigi dan menyebabkan perubahan warna kuning hingga kecoklatan.
Perubahan warna gigi oleh karena faktor ekstrinsik ini dapat dikoreksi dengan metode bleaching dengan baik karena sifatnya yang superfisial.

2. Faktor intrinsik
Perubahan warna gigi dapat disebabkan oleh gangguan pada saat pembentukan struktur gigi (mottled enamel, enamel hypoplasia, dentin hypoplasia, penggunaan obat tertentu seperti tetrasiklin) maupun setelah gigi erupsi (perdarahan pulpa akibat trauma, bahan perawatan saluran akar, dan bahan restorasi gigi). Perubahan warna gigi oleh karena faktor intrinsik lebih sulit dikoreksi dengan metode bleaching dan seringkali membutuhkan prosedur yang lebih kompleks untuk mendapatkan hasil yang optimal.

mottled enamel oleh karena fluorosis

 

perubahan warna gigi oleh karena penggunaan tetrasiklin pada masa pembentukan gigi

3. Faktor penuaan
Warna gigi seseorang ditentukan oleh warna dentin. Seiring dengan bertambahnya usia, chroma pada warna dentin menjadi semakin pekat sehingga warna gigi yang dulunya cenderung putih dengan sedikit nuansa kekuningan menjadi lebih kuning dan gelap.

Gigi Nyeri Sesaat Setelah Ditambal

Pernahkah Anda mengalami nyeri gigi justru setelah gigi Anda selesai ditambal?

Derajad rasa nyeri ini biasanya bervariasi mulai dari sedikit sensitivitas saat mengonsumsi makanan/ minuman dingin hingga sedikit rasa sakit bila gigi dibuat mengunyah.

Hal ini merupakan sesuatu yang normal dan dapat disebabkan oleh beberapa hal, seperti:

1. Trauma yang dialami gigi selama proses penambalan

Pada saat prosedur penambalan akan dilakukan, biasanya dokter gigi akan membersihkan lubang gigi dengan bur khusus. Selain itu, digunakan bahan asam untuk membantu perlekatan bahan tambal pada gigi. Panas/ gesekan yang dihasilkan oleh bur dan sifat bahan asam ini dapat mengiritasi jaringan saraf yang ada di dalam gigi dan mengakibatkan keradangan sementara yang menimbulkan sedikit rasa nyeri. Rasa nyeri ini normal dan akan menghilang dengan sendirinya dalam waktu 2-6 minggu.

2. Tambalan terlalu tinggi.

Penempatan tambalan yang terlalu tinggi dapat mengakibatkan gigi tersebut kontak terlebih dahulu dengan gigi antagonisnya dibandingkan dengan gigi-gigi lain pada saat mengunyah. Bila dibiarkan, maka jaringan periodontal gigi tersebut akan mengalami injuri sehingga gigi tersebut akan terasa sakit bila digunakan untuk mengunyah. Untuk mengatasi hal tersebut, dokter gigi akan memeriksa gigitan dan menyesuaikan kembali tinggi tambalan. Bila jaringan periodontal telah pulih, maka rasa nyeri pada saat mengunyah juga akan menghilang.

3. Terdapat lubang lain di sekitar gigi tersebut.

Ada kalanya bila pasien memiliki beberapa karies di gigi-gigi yang berdekatan atau memiliki penyakit periodontal yang aktif, sulit bagi pasien untuk mendiferensiasi dari gigi manakah rasa sakit itu berasal. Hal ini disebabkan karena jaringan saraf di dalam setiap gigi saling berhubungan melalui satu cabang saraf besar. Bila Anda mengalami rasa nyeri pada satu gigi tertentu, mungkin saja rasa nyeri itu sebenarnya disebabkan oleh gigi Anda yang lain.

Bila Anda mengalami hal ini, jangan ragu untuk mengunjungi kembali dokter gigi Anda. Dokter gigi akan melakukan pemeriksaan dan penyesuaian yang diperlukan sehingga gigi Anda akan terasa nyaman kembali.

The Cracked Tooth Syndrome

Cracked tooth syndrome, atau terjemahan langsungnya sindrom gigi retak merupakan salah satu kasus yang sangat sering dijumpai di dunia kedokteran gigi.

 

Apa sebenarnya cracked tooth syndrome ini?

 

Cracked tooth syndrome merupakan rangkaian gejala yang dirasakan oleh pasien yang disebabkan oleh fraktur sebagian dari mahkota gigi yang masih vital. Tidak jarang pula, fraktur ini menjalar sampai ke dalam ruang pulpa.

 

Penyebab terjadinya keretakan gigi ini bermacam-macam, misalnya:

  • mengunyah benda atau makanan yang keras (kebiasaan menggigit-gigit pensil, mengunyah kacang/ permen keras)
  • kecelakaan
  • grinding/ clenching teeth, bruxism
  • tekanan pengunyahan yang tidak seimbang
  • hilangnya sebagian besar struktur gigi oleh karena karies atau tambalan
  • perubahan suhu ekstrim : misal makan makanan yang sangat panas diikuti dengan minum yang sangat dingin
  • brittleness of the teeth (misal: disebabkan oleh perawatan saluran akar

Gejala yang paling umum dirasakan oleh pasien adalah rasa nyeri saat gigi dibuat menggigit/ mengunyah. Pasien biasanya kesulitan untuk menunjukkan gigi mana yang terasa nyeri. Selain itu, berbeda dengan rasa nyeri yang dirasakan akibat infeksi gigi, rasa nyeri akibat gigi yang retak ini biasanya muncul saat tekanan dilepas.

 

Gigi yang paling banyak mengalami kasus ini adalah geraham kedua (mandibular second molars), geraham pertama (mandibular first molars), dan geraham kecil rahang bawah (mandibular premolars) oleh karena letak gigi-gigi tersebut yang cenderung di posterior. Biasanya gigi-gigi tersebut memiliki karies atau tambalan yang cukup besar, tetapi ada kalanya gigi tersebut masih utuh tanpa karies sedikitpun.

 

Pada kasus yang ringan, garis fraktur ini nyaris tak kasat mata, misalnya craze line yang tampak pada gambar gigi di bawah ini. Craze line ini biasanya baru terlihat dengan teknik iluminasi, teknik pewarnaan dengan methylene blue, atau dengan cara mengubah arah sudut pencahayaan. Craze line pada umumnya tidak menimbulkan keluhan pada pasien.

 

Pada kasus yang lebih parah daripada craze line, garis fraktur biasanya terlihat lebih jelas berwarna putih atau coklat kehitaman.

 

Garis fraktur tampak kecoklatan pada permukaan oklusal mahkota gigi.

 

Setelah tambalan gigi dibuang, terlihat garis fraktur berwarna kehitaman yang berjalan sepanjang dasar kavitas.

Garis fraktur berwarna kehitaman menjalar dari permukaan oklusal hingga ke daerah leher gigi di dekat gusi.

 

Setelah ruang pulpa dibuka, tampak garis fraktur (dalam lingkaran kuning) yang berada di dasar ruang pulpa. Dalam hal ini, garis tersebut muncul dengan bantuan pewarnaan methylene blue.

 

 

Fraktur  menjalar hingga melewati garis gusi dan menyebabkan gigi terbelah. Pada kasus seperti ini, gigi tersebut sudah tidak dapat dilakukan perawatan dan harus dicabut.

 

Perawatan dan prognosa untuk cracked tooth syndrome dapat bermacam-macam berdasarkan dari tingkat keparahan fraktur, mulai dari prosedur penambalan gigi sederhana hingga perawatan saluran akar (root canal treatment) diikuti dengan pemasangan mahkota gigi (dental crown).

Perlukah Mengganti Tambalan Gigi yang Sudah Lama?

Ada kalanya pasien merasa heran saat dokter gigi memberi tahu bahwa ada tambalan gigi yang sudah lama dan perlu diganti. Pasien tersebut merasa tambalannya baik-baik saja, dan walaupun permukaannya sedikit aus, giginya tidak pernah terasa sakit. Mengapa dokter gigi menyarankan untuk mengganti tambalan?

Tambalan gigi tidak dapat bertahan selamanya.

Banyak yang berpikir bahwa setelah gigi berlubang ditambal, maka semua akan baik-baik saja sepanjang gigi (dan tambalan tersebut) rajin dibersihkan. Hal tersebut kurang tepat.

Tambalan gigi yang dilakukan dengan prosedur yang baik dan dirawat dengan baik memang dapat bertahan untuk jangka waktu yang cukup lama, tetapi tetap memiliki rentang waktu tertentu sebelum akhirnya harus diganti. Mengapa begitu?

Pada saat tambalan masih baru, tambalan tersebut melekat erat dengan gigi, nyaris tanpa celah. Akan tetapi, sejalan dengan waktu, tambalan tersebut akan menerima beban kunyah yang cukup berat setiap hari (terutama pada gigi geraham). Hal tersebut dapat menyebabkan permukaan tambalan menjadi aus atau retak. Hubungan antara gigi dan bahan tambalan yang tadinya nyaris tidak ada celah, kini menjadi lebih terbuka (terbentuk kebocoran mikro) dan rentan dimasuki oleh bakteri. Setelah bakteri masuk ke dalam celah, mereka tidak dapat dibersihkan. Bakteri tersebut berkembang biak dengan baik di dalam celah karena mereka tidak terjangkau oleh produk-produk pembersih & antiseptik untuk gigi.

Kebocoran pada tepi tambalan amalgam dan komposit

Walaupun bakteri berhasil masuk ke dalam celah tersebut, rasa nyeri pada gigi baru akan timbul setelah bakteri berada cukup dekat dengan persarafan gigi, di mana biasanya karies yang didapatkan sudah lebih dalam. Bakteri yang telah menginfeksi saraf gigi dapat menimbulkan rasa sakit yang sangat dan pembengkakan.

Berapa lamakah tambalan gigi dapat bertahan?

Keawetan tambalan komposit berkisar antara 5-7 tahun, dengan catatan proses penambalan dan maintenance dilakukan dengan baik oleh dokter gigi dan pasien.
Tambalan komposit harus dipoles untuk memperoleh permukaan yang halus sehingga memudahkan pembersihan. Gigi yang ditambal harus dibersihkan secara teratur dengan cara menyikat gigi dan menggunakan dental floss (benang gigi). Konsumsi makanan kariogenik (berpotensi tinggi menimbulkan lubang gigi, seperti permen & kue) harus dikurangi.

Penggantian tambalan memiliki tujuan yang baik agar gigi-geligi Anda tetap terjaga kesehatannya dan berfungsi dengan baik. Oleh karena itu, jangan lagi ragu apabila dokter gigi menyarankan untuk mengganti tambalan Anda. Mencegah selalu lebih baik daripada mengobati.